Teknologi Pengolahan Air Sungai menjadi Air Siap Minum

di Desa Jago Kab. Lombok Tengah

 

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi yang kejadian diare berada di atas rata-rata nasional yaitu 4,1 persen. Hal ini menjadi indikator masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi air bersih. Berdasarkan data BPS Lombok Tengah (2014)  jumlah rata-rata masyarakat yang menggunakan  jasa PDAM  baru 12,31%  sedangkan sisanya menggunakan sumur yang merupakan sumber air minum tak terlindungi artinya memiliki peluang tercemar virus dan bakteri yang dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti diare, kolera, tifus, infeksi E- coli, hepatitis A, dan polio. Pola hidup masyarakat yang mengalirkan air limbah domestik ke sungai baik langsung maupun tidak langsung memperbesar peluang tercemarnya air sumur.

Tingginya aktivitas sektor pertanian yang menggunakan pupuk dan pestisida, dimungkinkan bahan kimia dan hasil peruraianya akibat proses  leaching terbawa aliran air kemudian meresap  ke dalam tanah dan masuk ke dalam sumber air tak terlindungi. Hal ini diindikasikan dengan hasil pengukuran kadar nitrit dan ammonia di beberapa sungai yang mengaliri Lombok Tengah (seperti sungai Leneng, Pengames,  Srigangge dan waduk Batujai)  melebihi baku mutu air kelas I sebagai bahan baku air minum.  Kontaminan jenis ini tidak dapat diatasi hanya dengan mendidihkan bahan baku air minum seperti halnya kontaminan bakteri atau virus.

Masyarakat membutuhkannya sistem pengolahan air yang mampu meningkatkan kualitas air meliputi aspek fisik, kimia dan biologi sehingga sumber daya air lokal menjadi aman dan layak dikonsumsi masyarakat. Pengolahan air ini dapat menjamin kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih dapat terpenuhi.

Proses pemilihan teknologi pengolahan air  yang aman dan layak harus disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat agar  keberlanjutan sistem pengolahan air bersih ini dapat terus terpelihara. Teknologi yang dipilih sebaiknya mudah dioperasionalkan dan menggunakan alat/bahan yang mudah didapat  Saat ini beberapa dosen Fakultas MIPA dan teknisi laboratorium Kimia Dasar Universitas Mataram berkolaborasi mendirikan unit pengolahan air siap minum di Desa Jago, Lombok Tengah. Tim yang terdiri dari Nurul Ismillayli, Laili Mardiana, Rina Kurnianingsih, Dhony Hermanto, Fahrurazi, dan Ahmad Wirahadi telah membangun unit pengolahan air sungai menjadi air siap minum dengan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti melaui skim IbM Tahun 2017.

Pada prinsipnya unit pengolahan air menggunakan kombinasi filtrasi adsorpsi oleh saringan pasir lambat (terdiri dari pasir silika, arang aktif, ijuk, kapas, dan kerikil), membran selulosa, granula karbon, karbon aktif dan membran reverse osmosis (RO). Sedangkan proses desinfikasi menggunakan penyinaran lampu ultra violet. Saat ini kapasitas produksi masih terbatas  sekitar 15 galon perhari, diharapkan di masa mendatang kapasitas ini dapat ditingkatkan. Berdasarkan uji organoleptik dan uji laboratorium, air hasil pengolahan disukai masyarakat sekitar dan memiliki kualitas air layak minum. Pembangunan sentra pengelolaan air siap minum ini diharapkan selain dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih juga dapat menjadi edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat.