MATARAM –  Banyaknya kelompok ternak sapi di Nusa Tenggara Barat menarik minat kalangan akademisi dari Program Studi Biologi dan Kimia FMIPA Universitas Mataram melaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan fokus utama pemanfaatan kotoran ternak pada kandang kolektif sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair. Kelompok akademisi tersebut yakni Dr Fathurahman SPt,MSi dan Dr Ernin Hidayati SSi MSi dari Program Studi Biologi FMIPA Unram dan Dr Maria Ulfa SSi, MSi dari Program Studi Kimia FMIPA Unram baru-baru ini memperkenalkan teknologi pembuatan pupuk organik cair  dengan bahan dasar kotoran ternak sapi pada  Kelompok Ternak Beriuk Maju Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.“Kotoran ternak sapi selama ini masih dimanfaatkan sebatas pupuk kandang. Kami merasa perlu memperkenalkan teknologi baru kepada peternak bagaimana memaksimalkan potensi kotoran ternak mereka untuk membuat pupuk organik cair yang punya nilai ekonomis tinggi,”kata Dr Fathurahman, Ketua Tim Pengabdian Pada Masyarakat FMIPA Univeritas Mataram.

Menurut Fathurahman, tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan kelompok ternak tentang potensi  pemanfaatan limbah urin dan feses sapi menjadi produk yang bernilai tinggi yakni compost tea. Pihaknya memilih Kelompok Ternak Beriuk Maju dan Tereng Galih Sigerongan Lingsar Narmada sebagai lokasi pengabdian disebabkan karena dua kelompok ternak ini merupakan  kelompok ternak yang berkembang cukup pesat di Nusa Tenggara Barat.”Jumlah anggotanya sebanyak 40 orang peternak dan memelihara 80 ekor sapi. Jumlah yang cukup besar untuk menghasilkan urin dan feses sapi yang selama ini mereka buang dan alirkan bersama air pembersihannya ke sungai di sekitar kandang kolektif,”jelasnya.

Dikatakannya, Pengelolaan limbah yang kurang baik akan membawa dampak serius pada lingkungan. Sebaliknya jika limbah dikelola dengan baik, maka akan memberikan nilai tambah seperti mengolahnya menjadi compost tea atau akrab dikenal sebagai pupuk organik cair. Banyak manfaatnya terutama untuk tumbuhan, memperbaiki unsur hara pada tanah yang tidak dimiliki oleh pupuk kimia, sehingga kesuburan tanah bisa terjaga.”Apalagi dengan harga pupuk kimia pabrikan yang semakin mahal, maka limbah kandang menjadi alternatif peluang usaha yang memiliki nilai jual,”ungkapnya optimis seraya menambahkan keunggulan penggunaan pupuk organik cair seperti volume penggunaan yang lebih hemat dibandingkan pupuk organik padat serta aplikasinya lebih mudah karena dapat diberikan dengan penyemprotan atau penyiraman serta dengan proses akan dapat ditingkatkan kandungan hara atau unsur nitrogennya.

Hal senada diungkapkan Dr Ernin Hidayati SSi MSi selaku anggota tim Pengabdian Pada Masyarakat FMIPA Universitas Mataram yang menyebutkan bahwa hasil uji coba menunjukkan bahwa compost tea yang baik mengandung 60% urine, 15% limbah air kelapa, 15% feses serta dedaunan segar. Campuran ini, katanya, difermentasi dengan effective microorganism-4 atau EM-4 sebanyak 5 persen dan yeast Saccharomyces cerevisae untuck mempercepat laju fermentasi menjadi 6-10 hari dalam bak tertutup untuk menciptakan kondisi miskin oksigen. “Hasil uji in planta memperlihatkan bahwa pertumbuhan tanaman uji secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan tanaman kontrol,”terangnya dan menyebutkan selama pengabdian pada masyarakat, pihaknya melakukan beberapa tahapan seperti sosialisasi, pelatihan compost tea, instalasi produksi dan pembinaan.

Ditambahkan, Tim Pengabdian pada Masyarakat FMIPA Universitas Mataram juga berhasil mempertemukan Kelompok Ternak Beriuk Maju dengan Yayasan Kemandirian Ummat NTB yang akan membantu kelompok ternak memasarkan produk pupuk organik cair yang dihasilkan.”Ya semacam kemitraanlah,”tuturnya dan mengaku sangat terkesan dengan semangat  Kelompok Ternak Beriuk Maju Sigerongan untuk mengembangkan pupuk organik cair dari urin dan feses sapi.