Kegiatan Pengabdian BOPTN Tahun 2018 dari Program Studi Kimia Fakultas MIPA Universitas Mataram, salah satunya dipusatkan di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat. Desa Banyumulek merupakan salah satu sentra industri gerabah terbesar di Provinsi NTB. Industri gerabah di desa ini, sudah dimulai sejak tahun 1960an. Hampir setengah abad berdiri menjadikan industri ini menjadi sumber penghasilan utama warga desa, sehingga sangat potensial bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif untuk mendukung peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Industri gerabah di Desa Banyumulek diawali dengan pembuatan berbagai perkakas rumah tangga sederhana seperti piring, cangkir, periuk, celengan, dll. Seiring berjalannya waktu perkembangan model dan jenis gerabah yang dihasilkan kian berkembang. Selain model dan jenis untuk menarik minat konsumen, pengrajin gerabah meningkatkan nilai estetika gerabah dengan pewarnaan. Untuk menghasilkan warna yang bervariasi dan kuat hampir 80% pengrajin menggunakan pewarna sintetik (cat). Selain itu, untuk mengkilapkan gerabah digunakan produk pengkilap dengan kandungan besi oksida. Kedua bahan ini tidak ramah lingkungan.

Salah satu solusi untuk meminimalisir akibat negatif penggunaan cat sintetis dan pengkilap pada proses pewarnaan gerabah adalah penggunaan pewarna alami. Pewarna alami yang digunakan pada kegiatan ini, merupakan limbah yang banyak terdapat di Desa Banyumulek dan tidak termanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut adalah limbah abu pembakaran gerabah dan kulit biji asam. Limbah abu pembakaran gerabah yang dicampurkan pada jerami, rumput segar dan bubuk abu sekam padi dapat menghasilkan warna hitam alami dan mengkilat. Kulit biji asam yang dicampurkan dengan limbah abu pembakaran halus dapat menghasilkan warna merah maroon alami dan mengkilat.

 Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan praktek pewarnaan gerabah. Kegiatan ini dilakukan pada hari Sabtu 8 September 2018, diikuti oleh 30 orang pengrajin anggota UMKM Patuh Pacu Desa Banyumulek. Pada tahap sosialisasi para peserta diberikan pengetahuan tentang pemanfaatan limbah abu pembakaran dan kulit biji asam sebagai pewarna dan pengkilap alami gerabah. Selain itu, para pengrajin diberi pemahaman tentang efek negatif bahan kimia dalam cat sintetis dan bahan pengkilap. Tahap praktek dilakukan pada saat pembakaran gerabah. Gerabah yang masih dalam keadaan panas ditumpuk dengan limbah abu pembakaran halus, bubuk sekam, jerami dan rumput basah, menghasilkan gerabah dengan warna hitam alami dan mengkilat. Pewarnaan dengan kulit biji asam dilakukan dengan mencampurkan bahan ini dengan limbah abu pembakaran halus kemudian dimasak selama 30 menit. Air campuran disaring dan diaplikasikan pada gerabah menghasilkan warna merah maroon alami dan mengkilat. Penggunaan pewarna alami pada hasil-hasil kerajinan tangan sangat diminati oleh pasar ekspor Asia, Eropa dan Australia. Sehingga hasil pengabdian ini, diharapkan dapat meningkatkan inovasi teknik pewarnaan alami pada gerabah.

(Saprini Hamdiani, Siti Raudhatul Kamali, Nurul Ismillayli, Dina Asnawati, Made Ganesh Darmayanti

Foto Kegiatan :