CMB adalah singkatan dari Cow Manure Brick dan CMR adalah Cow Manure Roof. Kedua produk inovasi ini adalah hasil pengabdian Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2019. Program PKM terselenggara atas kerjasama dari Ristekdikti, Prodi Kimia FMIPA Unram, LPPM Unram dan para pengrajin genteng dan batu bata di Desa Taman Indah Kabupaten Lombok Tengah. Industri genteng dan batu bata di Desa Taman Indah telah berlangsung sejak tahun 1960an. Industri ini telah memberi kehidupan bagi ribuan warga desa dan menjadi mata pencaharian utama. Namun, beberapa tahun belakangan ini geliat industri pembangunan perumahan di wilayah Provinsi NTB tidak signifikan mendongkrak kapasitas produksi.

Berangkat dariĀ  keprihatinan tim PKM yang terdiri dari Saprini Hamdiani Prodi Kimia FMIPA, Suthami Ariessaputra (Fakultas Teknik Unram) dan Saprizal Hadisaputra (FKIP Unram), akan keberlangsungan industri genteng dan batu bata di Desa Taman Indah yang mulai mengalami penurunan produksi. Permasalahan utama yang dihadapi para pengrajin adalah kesulitan memperoleh bahan baku utama, yaitu tanah liat berkualitas baik. Tanah liat semakin mahal harganya. Sehingga perlu dicari bahan baku alternatif untuk mengurangi penggunaan tanah liat sehingga dapat menghemat ongkos produksi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan limbah padat peternakan sapi (LPPS), kompos dari hasil fermentasi LPPS dan bioslurry (limbah padat biogas) sebagai filler berdasarkan konsep teknologi nanokomposit. Penggunaan kompos dari hasil fermentasi LPPS sebagai filler pernah diterapkan oleh tim pada gerabah di Desa Banyumulek. Konsep ini berhasil menghasilkan gerabah Gakoshi (Gerabah Kotoran Sapi) yang lebih ringan dan kuat. Konsep ini kemudian diterapkan pada genteng dan batu bata. Berdasarkan hasil penelitian batu bata CMB dengan nilai kuat tekan tertinggi 4,1 MPa (memenuhi standar SK-SNI-S-04-1989-F) dan lebih ringan 15,47% dibandingkan dengan Batu Bata produksi Pengrajin di Desa Taman Indah. Produk genteng CMR dengan filler bioslurry lebih ringan 20% dan memiliki beban lentur 65 kgf (SNI 03-6861.1-2002 Tingkat III). Berbagai keunggulan yang dimiliki oleh CMB dan CMR membuat inovasi ini sangat baik untuk dikembangkan di Provinsi NTB, bumi sejuta sapi. Tim pengabdian berharap teknologi ini dapat menjadi solusi bagi tersedianya bahan baku bangunan yang murah dan berkualitas.

Selain itu, tim pengabdian juga merancang mesin press batu bata yang dapat digunakan juga sebagai penggiling tanah. Sebelum menggunakan mesin, pembuatan batu bata dilakukan secara manual. Kapasitas produksi hanya mampu 1000 buah batu bata perhari. Setelah penggunaan mesin, kapasitas produksi mencapai 2000 buah batu bata perhari. Terjadi peningkatan kapasitas produksi hingga 50%. Mesin sangat membantu pengrajin dalam usaha memenuhi pesanan tepat waktu serta hasil produk yang diperoleh juga lebih baik dan halus.